Apa itu Cache Website?

by Cloudku / June 29, 2021

Apa itu Cache Website?

Apa itu cache website?

Halo para Cloudku pada kesempatan kali ini kita akan membahas apa itu cache website. Pernahkah Anda batal mengunjungi sebuah website karena waktu loadingnya terlalu lama? Ya, hal ini selalu menjadi masalah besar bagi pemilik website. Tapi jangan khawatir, ada banyak solusi untuk masalah ini, yang salah satunya akan dijelaskan dalam artikel.

Apa Itu Web Caching?

Pertama, mari kita cari tahu terlebih dahulu pengertian cache. Jadi, web cache adalah fungsi yang menyimpan data di server untuk digunakan lagi nantinya.

Cara kerja web cache adalah seperti berikut:

  • Saat Anda membuka situs, fungsi web cache akan mengumpulkan semua data website, mengubahnya menjadi file HTML, lalu membukanya di browser Anda.
  • Pada kali berikutnya Anda membuka website tersebut, cache akan memuat salinan yang sudah disimpan. Dengan demikian, server bisa bekerja lebih cepat dan tidak overload.
  • Tentu saja, jika website-nya diperbarui, proses ini akan diulang lagi dari awal.

Ada dua hal yang perlu diingat: pertama, tidak setiap website menggunakan cache. Kedua, cache bisa kedaluwarsa atau dihapus secara manual.

Jika Anda menggunakan Google Chrome dan ingin menghapus cache, klik menu tiga titik di bagian kanan atas halaman, lalu pilih Riwayat (atau tekan Ctrl + H). Kemudian, klik Hapus Data Penjelajahan. Setelah itu, centang opsi yang Anda inginkan, lalu pilih Hapus data.

Mengapa Cache Web Penting?

Web caching berperan cukup signifikan dalam kecepatan loading website. Ini bisa meningkatkan performa website Anda, karena nantinya pengunjung tidak perlu menunggu lama sampai website selesai dimuat.

Pemrosesan permintaan HTTP yang lebih sedikit berarti website akan menggunakan lebih sedikit bandwidth. Ini bisa menjadi hal yang baik bagi Anda, terutama jika Anda memiliki resource terbatas.

Jenis-Jenis Web Caching

Setelah mengetahui apa itu cache web, sekarang mari kita bahas jenis-jenisnya. Ada dua jenis web caching. Jenis web cache yang pertama adalah server-side caching, dan yang kedua adalah browser-side caching.

  • Browser-side caching terjadi saat Anda mencoba memuat website yang sama dua kali. Pertama, website akan mengumpulkan data untuk memuat halaman. Setelah mengunduhnya, browser akan menjadi tempat penyimpanan sementara untuk data tersebut.
  • Server-side caching memiliki konsep yang mirip dengan browser-side caching. Perbedaannya, tempat penyimpanan datanya ada di server. Server-side caching juga berbeda karena bisa menyimpan lebih banyak data.

Karena menggunakan server untuk menyimpan cache, server-side caching memiliki berbagai sistem cache. Ada full-page caching, object caching, dan fragment caching.

Sederhananya, full-page caching menyimpan seluruh halaman web. Ini berguna ketika traffic halaman sedang tinggi.

Sementara itu, object caching digunakan untuk menyimpan bagian situs yang ada di lokasi lain.

Fragment caching mirip dengan object caching, tetapi menargetkan bagian website tertentu, seperti widget dan ekstensi.

Menggunakan Cache Web di Situs WordPress

Web caching bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja situs WordPress. Kode yang diperlukan bisa ditulis sendiri, tetapi sayangnya tidak semua orang paham cara melakukannya. Tenang, ada cara alternatif yaitu dengan menggunakan plugin WordPress yang cukup efektif untuk mengelola web caching.

Plugin yang tersedia bisa diinstal dan digunakan dengan mudah, jadi Anda bisa mengimplementasikannya tanpa masalah. Namun ingat, hanya gunakan satu plugin caching untuk memastikan situs berjalan secara optimal.

Berikut beberapa plugin caching WordPress:

1.  W3 Total Cache

W3 Total Cache

W3 Total Cache adalah salah satu plugin caching WordPress gratis yang paling populer. Ekstensi ini cocok untuk pengguna yang ingin mencoba berbagai jenis web caching. Plugin ini menawarkan semuanya, mulai dari cache halaman sampai fragment caching.

2. WP Super Cache

WP Super Cache

WP Super Cache memiliki cara yang unik untuk menyimpan cache website. Plugin ini memiliki tiga kategori untuk sistem penyimpanan cache: expert, simple, dan WP-cache caching. Model simpelnya menggunakan PHP untuk menyediakan file statis. Expert menggunakan mod_rewrite Apache, dan WP-cache caching menggunakan halaman dari pengguna sebelumnya.

3. Autoptimize

Autoptimize

Autoptimize adalah plugin cache WordPress yang berfokus pada skrip dan gaya. Modelnya cukup simpel dan tidak bertele-tele, karena Anda hanya perlu mencentang opsi yang diberikan untuk mengoptimalkan HTML, Javascript, dan CSS website.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram